Tagana Kota Batu Siap Membantu Evakuasi Bencana

Siapa yang tidak akrab dengan Simon Purwo Ali? Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jatim dua periode sejak 2008 itu sangat dekat dengan masyarakat dalam berbagai suasana. Hampir setiap bencana yang terjadi di Batu bahkan di Jatim, dia tidak pernah absen untuk membantu.

Paling gres, awal 2011 lalu terjadi bencana longsor di Payung II, Songgoriti, Batu. Dia bersama Pemkot Batu mengerahkan anggota Tagana untuk membantu evakuasi. “Memang tidak menimbulkan korban jiwa, tapi ini menjadi catatan buruk bagi ekosistem alam di area wisata,” ungkapnya saat ditemui Newsletter Simpuldemokrasi, Minggu (6/3), di sekretariat Karang Taruna Batu Jalan Raya Mojorejo No 41.

Sesaat kemudian, Simon lalu menyulut sebatang rokok filter. Beberapa hembus asap dia keluarkan untuk menghangatkan suasana. Dia lalu mengisahkan beberapa aktivitas Tagana dalam penanganan bencana. Simon merendah dengan mengatakan kontribusi Tagana tidak terlalu signifikan. “Beberapa aktivitas kami lakukan seirama dengan semangat penghijauan. Beberapa lahan gundul kami tanami pohon hasil sumbangan beberapa pihak,” terang Simon dengan nada datar. Sesekali, lanjut Simon, pihaknya juga mengirimkan delegasi untuk mengikuti diklat simulasi bencana yang digelar Bidang Linmas Kantor Kesbanglinmas Batu.

Berkat itu, Simon berani sesumbar dengan menyebut beberapa prestasinya. Dia berhasil membawa Tagana Jatim menjuarai Jambore Nasional Tagana di Cibubur pada Desember 2010. Acara bertajuk peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) itu menampilkan atraksi kesiapsiagaan Tagana untuk melakukan pertolongan pertama di daerah bencana. “Bisa jadi penghargaan itu karena kami terlalu biasa turun ke medan bencana,” katanya lantas sesekali menawarkan jajanan yang terhidang di meja.

Secara pribadi, Simon memang memiliki jam terbang dan aktivitas sosial kemasyarakatan yang cukup tinggi. Dia terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Pramuka dan Karang Taruna Kota Batu semenjak bangku sekolah. “Di situlah saya berproses sambil mengasah kemampuan,” ujar alumnus Universitas Wisnuwardhana, Malang, itu.

Melalui kepemimpinan di Karang Taruna selama lebih dari satu dekade itu dia sempat menorehkan prestasi. Itu terjadi pada 1998 dan 2004 lalu. Karang Taruna Batu menjadi Juara Nasional Karang Taruna berprestasi.

Anggota Fraksi PDIP Batu itu menerangkan Kota Batu memang terletak di pegunungan sekaligus daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Dua kondisi geografis tersebut memicu potensi bencana longsor. Belum lagi apabila cuaca ekstrem menghampiri Kota Batu. “Semakin komplit karena nanti ada banjir bahkan puting beliung di Kota Batu. Tapi kita semua pasti tidak ingin hal itu terjadi,” terang Simon, sapaan Simon Purwo Ali.

Menanggapi hal itu, kemudian ia berpendapat bahwa dengan melihat tingkat potensi terjadinyabencana alam di beberapa daerah yang cukup besar. “Bencana itu sendiri bisa diartikan dua hal, bisa bencana sosial dan bencanaalam, contoh bencana sosial antara lain demo, kerusuhan, dsb” imbuhnya. Pada hakikatnya, TAGANA adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. mendapat penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) Awards Kota Batu sebagai anggota legislatif paling/terkomunikatif dalam bidang informasi publik.

Seiring dengan potensi bencana yang terjadi di Kota Batu, dia berharap bahwa ada langkah responsif dari Pemkot Batu untuk mengintensifkan proses sosialisasi dan kegiatan-kegiatan simulasi terhadap daerah-daerah di Kota Batu yang rawan bencana. Terkait dengan musim penghujan yang sedang terjadi, dia menghimbau agar masyarakat Kota Batu meningkatkan kewaspadaan dan segera mempersiapkan diri sekaligus mengantisipasi bencana yang terjadi.“Terutama daerah-daerah yang memiliki plengsengan yang cukup rawan terjadi longsoran, jadi mau tidak mau harus bertindak. Ibarat sedia payung sebelum hujan”,imbuhnya sambil terkekeh.