Sunarto, Seniman Reog Sapto Tunggul Wulung Batu

Laporan: Ahmad Jazuli

SUNARTO mendadak murka ketika ditanya tentang kondisi terkini Seni Tari Reog. Pemuda 25 tahun itu begitu kecewa atas respons generasi muda kini dalam melestarikan Reog sebagai tradisi warisan leluhur. Itu terkait dengan lika-liku perjalanannya sebagai seniman penggiat Tari Reog dan salah satu peserta Sekolah Demokrasi angkatan VI di Kota Batu.

Soal klaim Negeri Jiran Malaysia atas Reog, misalnya. Narto, sapaan Sunarto, tak habis pikir bagaimana asal mulanya negeri di Semenanjung Melayu itu mengaku-aku Reog sebagai kesenian yang lahir dari sana. Secara spontan, dia lalu menggerakkan rekan-rekan sesama seniman untuk melakukan aksi turun ke jalan. Itu dilakukan untuk menegaskan bahwa Reog adalah khazanah budaya Indonesia, bukan milik negeri Jiran. Reog juga

merupakan maha karya para leluhur negeri ini.

Di sisi lain, peserta SD Batu VI itu bersyukur atas isu nasional tersebut. Klaim tersebut menumbuhkan minat baru bagi beberapa komunitas seniman dan masyarakat seni. Komunitas dan paguyuban Reog di Kota Batu lalu menggeliat bak bangun dari tidur panjang. Apalagi, Narto bersama Sapto Tunggul Wulungnya giat melakukan pentas seni di hampir seluruh pelosok desa di Kota Batu. Karena itu, dia kerap diundang untuk memeriahkan acara protokoler Pemerintah Kota Batu atau sekadar mengisi berbagai acara kesenian. “keberadaan kami mulai dihitung oleh masyarakat Batu,” kata bapak satu anak itu.

Dedikasi dan kecintaan Narto atas Reog itu memang begitu tinggi. Semua itu berasal dari panggilan hati yang selalu dia turuti. “Dari pada setengah-setengah, lebih tidak usah sama sekali,” ucap Narto. Prinsip tersebut dia implementasikan melalui strategi menggiatkan Reog sebagai kesenian tradisional gaul. Itu dia lakukan dengan merekrut anggota yang relatif sangat muda. Yaitu remaja usia sebelum SMA. Mereka diajari bagaimana menyelami dan menghayati menjadi seorang warok. “Ini penting menurut saya. Karena dengan melibatkan remaja, tugas generasi sekarang untuk menjaga sudah terlaksana. Kalau bisa, biarkan Reog ini menjadi bagian dari remaja masa kini,” tutur dia.

Namun, bukan berarti pelestarian Reog tidak ada masalah sama sekali. Fenomena yang kerap muncul adalah pemuda jaman sekarang enggan dengan yang berbau tradisional. Sebab, modernisasi membuat gaya hidup remaja jauh lebih instan dan serba teknologi. Sementara, Reog secara kasat mata hanya sebuah tarian sembari menggigit topeng macan berukuran besar. “Maka, kami terus mendorong agar remaja tak bosan-bosannya menekuni Reog. Adat ketimuran seperti ini sangat bernilai,” papar Narto dengan nada serius.

Sepi Dukungan
Tantangan yang dihadapi Narto cs dalam menjaga tradisi tersebut sebenarnya tidak hanya berhadapan dengan sepinya minat generasi muda. Tantangan terbesar lain yang mengancam eksistensi seni tradisional tersebut adalah soal keuangan. Apalagi, seni tradisional kini juga terus digerus oleh seni kontemporer dan budaya pop anak muda. “Kadang ada suatu masa dimana kami sepi mentas dan tanggapan. Kalah oleh band-band anak muda yang lebih akrab ketimbang tarian yang kami geluti,” ucap mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Terbuka itu.

Narto juga tidak bisa berharap banyak dari kepedulian pemerintah. Dia menyadari urusan pemerintah terlampau banyak untuk urusan pembangunan daerah. “Pernah ada uluran daa stimulus dari pemerintah. Tapi, itup masih sangat minim dan terbatas mengingat jumlah kami yang lumayan banyak,” terang Narto lantas menerangkan penggiat Reog dalam sangar Sapto Tunggul Wulung berjumlah 48 orang.

Maka, Narto menggagas ide kemandirian dalam berkesenian. Meski sederhana, tapi itu terbukti efektif untuk menjaga eksistensi Sapto Tunggul Wulung. Narto cs menggelar iuran rutin setiap pertemuan untuk kas paguyuban. Iuran itu bak ruh yang mengikat persaudaraan dan kekeluargaan sesama seniman di Sapto Tunggul Wulung.
Kenal Sejak Lahir

Keakraban Narto dengan Seni Reog bisa dibilang sudah terjalin cukup lama. Tidak tanggung-tanggung, jalinan itu sudah terjadi sejak dia lahir. Itu terjadi karena mendiang bapaknya adalah seorang pecinta Reog yang merupakan Cah Ponorogo asli (orang Ponorogo asli, red) tempat dimana Reog lahir. Dengan berbekal ketertarikan dan hobi, dia mulai menekuni Tari Reog secara otodidak. Baru pada 2005, ketika menginjak usia 19 tahun, dia serius terjun menjadi seniman dengan bergabung dengan Sanggar Reog Singo Manggulo Bulukerto.

Entah karena apa, dia tidak mampu bertahan di Sanggar Singo Manggulo Bulukerto. Dia lalu bergabung dengan Sanggar Reog Sardulo Seto Sisir pada 2007. Karena alasan tertentu, pada 2009, dia lalu memilih bergabung dengan Sanggar Reog Sapto Tunggul Wulung Sumberejo hingga kini.
 Di bagian lain, dia berharap agar Reog tak hanya identik dengan Kota Ponorogo. Dia ingin Tari Reog juga akrab menjadi suguhan dan apresiasi seni di daerah lain, termasuk Kota Batu. “Itu menuntut kepedulian berbagai pihak. Hanya kepada generasi muda kita bisa mewariskan kekayaan tradisi ini,” tegas bos bakso di Sumberejo itu. (zar)