SIMPUL-- Kegiatan Sekolah Demokrasi Pertemuan pada 12-13 April 2008 mengangkat materi tentang HAM di Indonesia. Yang menarik dalam pertemuan ini adalah, kehadiran Mulyana W Kusumah yang membincang tentang Institusionalisasi HAM di Indonesia. Mulyana menjelaskan bahwa ...
Kegiatan Sekolah Demokrasi Pertemuan pada 12-13 April 2008 mengangkat materi tentang HAM di Indonesia. Yang menarik dalam pertemuan ini adalah, kehadiran Mulyana W Kusumah yang membincang tentang Institusionalisasi HAM di Indonesia. Mulyana menjelaskan bahwa konstitusi HAM di Indonesia sebagian besar memang dibangun atas hukum HAM internasional. UU Hak-hak Politik dan warga negara serta UU tentang Hak-Hak Ekosob (Ekonomi, Sosial, dan Budaya) adalah produk konstituasi yang dihasilkan melalui ratifikasi hukum internasional. Mulyana menyatakan bahwa institusionalisasi ini sangat penting untuk menempatkan penghormatan dan penegakan HAM sebagai jaminan negara atas warganya.
Mulyana juga banyak memberikan deskripsi tentang problem hak-hak warga di Indoensia. Dalam konteks hak-hak publik, Mulyana menyoroti tentang hak publik atas informasi. Mulyana melihat hak publik ini sering dipolitisir oleh Negara. Negara hanya membuka ruang publik pada isu-isu yang bersifat populis saja,atau dalam bahasa Mulyana “Isu yang memberikan dampak dramatis yang kuat” seperti isu pilkada, pemilu, UU pornografi, partai politik dan sebagainya. Sementara isu-isu yang cukup strategis negara tidak serius membuka partisipasi publik, misalnya tentang peraturan tentang pengelolaan pelabuhan.
Dalam konteks hak ekonomi, Mulyana memaparkan data kemiskinan dan kelaparan yang cukiup memprihatinkan di negeri ini. Tingginya wabah busung lapar dan problem kemiskinan lainnya mendapat sorotan dari Mulyana untuk menjelaskan betapa Negara kurang menyentuh aspek hak-hak sipil di bidang ekonomi.
Dalam pertemuan ini, untuk semakin memberikan pemahaman akan pentingnya penegakan HAM, peserta diajak nonton film bareng berjudul Innocent Voice. Film berdurasi dua jam ini mengisahkan tentang kehidupan masyarakat di salah satu Equador, salah satu negara di Amerika selatan yang dilanda perang saudara. Perang telah menyebabkan warga di sebuah perkampungan menjalanai-hari dengan penuh penderitaan, termasuk keluarga Chava. Karena perang, Chava yang baru berusia sebelas tahun harus menggantikan posisi ayahnya untuk melindungi ibu dan kedua adiknya. Hari-hari dilalui dengan mencekam ketika Chava harus melindungi dan memberi ras aman kepada kedua adiknya ketika terjadi baku tembak di sekitar perkampungan antara kelompok berkuasa dan kelompok pemberontak. Chava dan teman-temannya juga bersiasat agartidak terkena wajib militer bagi anak berusia diatas 12 tahun yang diberlakukan tentara pemerintah.
Film ini juga memberikan gambaran bagaimana kehidupan anak-anak dalam suasana perang. Nuansa romantisme anak kecil juga menjadi warna tersenidir dalam film ini sehingga banyak peserta yang terharu bahkan sebagian ada yang sampai meneteskan air mata.
Mulyana juga banyak memberikan deskripsi tentang problem hak-hak warga di Indoensia. Dalam konteks hak-hak publik, Mulyana menyoroti tentang hak publik atas informasi. Mulyana melihat hak publik ini sering dipolitisir oleh Negara. Negara hanya membuka ruang publik pada isu-isu yang bersifat populis saja,atau dalam bahasa Mulyana “Isu yang memberikan dampak dramatis yang kuat” seperti isu pilkada, pemilu, UU pornografi, partai politik dan sebagainya. Sementara isu-isu yang cukup strategis negara tidak serius membuka partisipasi publik, misalnya tentang peraturan tentang pengelolaan pelabuhan.
Dalam konteks hak ekonomi, Mulyana memaparkan data kemiskinan dan kelaparan yang cukiup memprihatinkan di negeri ini. Tingginya wabah busung lapar dan problem kemiskinan lainnya mendapat sorotan dari Mulyana untuk menjelaskan betapa Negara kurang menyentuh aspek hak-hak sipil di bidang ekonomi.
Dalam pertemuan ini, untuk semakin memberikan pemahaman akan pentingnya penegakan HAM, peserta diajak nonton film bareng berjudul Innocent Voice. Film berdurasi dua jam ini mengisahkan tentang kehidupan masyarakat di salah satu Equador, salah satu negara di Amerika selatan yang dilanda perang saudara. Perang telah menyebabkan warga di sebuah perkampungan menjalanai-hari dengan penuh penderitaan, termasuk keluarga Chava. Karena perang, Chava yang baru berusia sebelas tahun harus menggantikan posisi ayahnya untuk melindungi ibu dan kedua adiknya. Hari-hari dilalui dengan mencekam ketika Chava harus melindungi dan memberi ras aman kepada kedua adiknya ketika terjadi baku tembak di sekitar perkampungan antara kelompok berkuasa dan kelompok pemberontak. Chava dan teman-temannya juga bersiasat agartidak terkena wajib militer bagi anak berusia diatas 12 tahun yang diberlakukan tentara pemerintah.
Film ini juga memberikan gambaran bagaimana kehidupan anak-anak dalam suasana perang. Nuansa romantisme anak kecil juga menjadi warna tersenidir dalam film ini sehingga banyak peserta yang terharu bahkan sebagian ada yang sampai meneteskan air mata.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















