Simpul Demokrasi

Friday
Jul 30th
  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Cari
  • English Dutch Indonesian
Home Program Sekolah Demokrasi Media Televisi Media Televisi IV Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Nasional

E-mail Cetak PDF
SIMPUL - Cangkruan “Gardu Demokrasi” yang keempat kalinya tayang di Batu TV (20/05), sebuah terobosan baru dalam pengembangan talkshow televisi program Sekolah Demokrasi Kota Batu yang semakin fenomenal. Tim Program Sekolah Demokrasi mempersiapkan jauh sebelum acara dimulai, sapa Sutomo selaku penanggungjawab pelaksanaan.

Gambaran model desain acara, tema dan narasumber dirangkum dalam skrip seminggu sebelum jadwal acara. Tema ini dipandang sangat perlu untuk dijelaskan kepada seluruh masyarakat tentang pentingnya pemberitaan yang baik untuk masyarakat Malang Raya. Dari pantauan Simpul Demokrasi, talkshow televisi 4 mengupas tentang Refleksi Kebangkitan Nasional yang konsep panggungnya diawali dengan adanya model Fragmen -- menggambarkan tentang kultur masyarakat yang cenderung Pragmatis dan lebih mementingkan aspek pendidikan. Sehingga, tema kebangkitan dikorelasikan dengan semangat dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Masyarakat melalui pendidikan. Dan diharapkan adanya kesadaran bagi masyarakat untuk memperhatikan aspek pendidikan bagi anak-anaknya/generasi muda.

Fragmen yang disutradarai oleh peserta Sekolah Demokrasi sangat menarik untuk kita simak. Fragmen yang menceritakan tentang seorang Ibu yang memaksakan anaknya perempuan untuk dinikahkan dengan seorang pemuda pilihan orang tuanya. Sedangkan anaknya masih ingin sekolah, Dan datanglah  seorang yang melerai, bapak Guru dan aktivis Perempuan, meredahkan pertikaian anak dan ibu yang pada akhirnya memberikan pengertian kepada ibu dan anak tersebut. Turut hadir pula, rombongan bapak RW yang terdiri dari Ketua RW, Pengamat Sosial Budaya dan perwakilan dari ibu-ibu. Pada akhirnya Ibu dan anak serta calon menantu sadar betapa pentingnya sekolah.

Bagi Abdulrohman, peserta Sekolah Demokrasi menegaskan bahwa pendidikan nasional dengan kebangkitan nasional keduanya sama-sama penting. Kalau dilihat dari sejarahnya berawal dari mahasiswa yang berkumpul untuk mengatur arah perjuangan sebagai harapan bahwa pemuda berpengaruh untuk mewarnai dalam perjuangan mengisi hari-hari dengan semangat belajar, salah satu upaya mencitrakan arah baru pendidikan kita.
Ibu Harir, menambahkan bahwa kesempatan dalam memperoleh pendidikan masih dibedakan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan lebih sedikit memiliki kesempatan pendidikan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena budaya kita yang sudah dari dulu menanamkan bahwa perempuan tidak berhak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Tapi kita patut bersyukur bahwa sekarang ini kesempatan perempuan dibuka lebar, kita berapresiasi yang baik kepada pemerintah.

Fajar, peserta Sekolah Demokrasi, juga menjelaskan bahwa  Anggaran Dasar yang asli dari Yayasan Budi Utomo masih berbau nasionalisme jawa. Penetapan Budi Utomo sebagai tonggak sejarah lebih kepada adanya pergeseran perjuangan pada saat itu, bergeser dari perjuangan senjata para pendahulu dengan kesadaran kita masuk kedalam perjuangan melalui organisasi. Kebangkitan nasional itu adalah esensinya nasionalisme, lambat laun kalau kita melihat nasionalisme semakin terkikis. Memang arus modernisasi, arus globalisasi membuat kita terpengaruh dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Kita perlu dikaji, di pelajari mana yang baik. Saya memang tidak mengelak kalau banyak dari pejuang-pejuang kita adalah perempuan. Dalam konteks persoalan Budi Utomo ada tafsir yang berbeda. Namun, kita ikuti ajalah penetapan pemerintah Indonesia bahwa tanggal 20 adalah hari kebangkitan nasional.
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.
+/- Komentar
Tambah Baru Cari

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Averroes Community

Averroes Community: Membangun Wacana Kritis Rakyat