SIMPUL - Talkshow televisi Program Sekolah Demokrasi (PSD) ke-10 dilaksanakan pada 9 Januari 2008. Tema yang diangkat dalam talkshow kali ini adalah “Program Sekolah Demokrasi; Menyongsong Tahun III, 2008”. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat dirasa sangat penting untuk kepentingan...
Talkshow televisi Program Sekolah Demokrasi (PSD) ke-10 dilaksanakan pada 9 Januari 2008. Tema yang diangkat dalam talkshow kali ini adalah “Program Sekolah Demokrasi; Menyongsong Tahun III, 2008”.
Pada kesempatan ini, tema yang diangkat dirasa sangat penting untuk kepentingan Program Sekolah Demokrasi dalam rangka mensosialisaikan kegiatannya sekaligus rekrutmen peserta angkatan tahun III. Namun, disi lain, juga dapat dilihat dari perkembangan demokrasi yang berjalan di Indonesia, sehingga dirasa perlu adanya pendidikan bagi masyarakat atau melalui para tokoh atau aktor-aktornya. Dengan harapan kegiatan ini mampu berjalan dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kebaikan bangsa ini, khususnya dimasyarakat sekitar.
Talkshow ini dipandu oleh presenter Sutomo, presenter mengawali dengan menyapa para narasumber, antara lain: Ari Wahyu Astuti, Puji Hariwati dan Heri Setiyono. Presenter mengawali dengan mengilustrasikan beberapa hal yang terkait dengan upaya mengkrabkan diri dengan masyarakat umum. Program ini telah berjalan selama dua tahun yang dilaksanakan teman-teman PLaCIDs Averroes, dengan harapan demokrasi yang sudah berjalan di negara kita di bangsa Indonesia ini, bisa berjalan yang lebih berkualitas.
Narasumber pertama, Heri Setiyono, membincang sedikit mengenai apa itu Program Sekolah Demokrasi. Demokrasi sekarang sudah menjadi trend di negara kita dan juga di seluruh dunia. Sedikit-sedikit kita ngomong demokrasi, bahkan segala sesuatu kita kaitkan dengan demokrasi. Bahkan juga ada negara yang meskipun monarkhi, sosialis sekalipun sering mengucapkan demokrasi. Pemimpin yang otoriter dan tiranipun sering mengaku demokratis. Tapi seringkali justru di tataran implementasi kadang-kadang jauh dari demokrasi. Padahal sebetulnya semua aspek di masyarakat itu harus kita demokratisasikan. Cara kita bertetangga itu harus demokratis, cara kita bekerja juga harus demokratis, cara bergaul kita sebagai warga negarapun harus demokratis, itu kalau kita masyarakat.
Tapi kalau kita sebagai aparatur negara, tetap juga harus demokratis. Bagaimana seorang pamong praja, seorang pelayan masyarakat, seorang pejabat itu harus demokratis dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pun juga partai politik tentunya, justru yang harusnya paling serius untuk mendemokratisasi dirinya adalah partai politik. Karena jembatan antara masyarakat dan negara dalam ranah bidang politis adalah aktivis partai. Dan ini sangat penting untuk mengerti apa itu demokrasi. Begitu pula dengan kalangan pengusaha. Nah semua kalangan masyarakat, kalangan birokrasi negara, kalangan partai politik, kalangan pengusahan ini yang menjadi sasaran demokratisasi yang sesungguhnya. Agar pertama tahu apa itu demokrasi, yang kedua kemudian bisa melaksanakan demokrasi. Lha dari greget itulah Program Sekolah Demokrasi itu di adakan agar kita bersama-sama belajar, mengkaji dan juga melaksanakan apa itu demokrasi di Malang ini. Terutama karena Malang, kami pikir di program itu adalah Malang Raya ini wilayah yang paling serius sebagai sasaran untuk berdemokrasi. Yang pertama karena faktor budaya, faktor pendidikan, faktor kehidupan sosial politiknya, kiranya harus kita sisir demokrasinya.
Kami percaya betul, bahwa sebetulnya demokrasi itu sebagai suatu investasi sebetulnya. Ya kita tahulah bahwa negara ini dalam masa transisi demokrasi begitu, dalam masa itu maka yang harus kita siapkan adalah perangkat-perangkat lunaknya demokrasi, nilai-nilainya yang kita sasar. Kalau sekarang demokrasi itu tidak berjalan, bukan berarti demokrasi itu tidak tepat dilaksanakan. Tetapi demokrasi memang butuh waktu yang panjang. Sama halnya dengan pendidikan. Aspek yang penting dalam hidup sebenarnya pendidikan, bahkan dalam ajaran agama pendidikan itu wajib dari lahir sampai mati.
Demokrasi ia pikir, adalah gerakan di aspek pendidikannya, karena yang disasar adalah nilai. Jadi nilai-nilai demokrasi itu seharusnya sejak awal sudah mulai di pupuk. Sedini mungkin nilai demokrasi dipupuk, berkembang kemudian kalau untuk pengimplementasian demokrasi itu butuh apa? Butuh pengetahuan demokrasi. Pengetahuan demokrasi, jadi agar demokrasi tidak disalah artikan. Jangan-jangan kayak apa sih demokrasi itu? Jadi kita akan menemukan bentuk demokrasi, bagian yang terpenting juga keterampilan demokrasi. Karena kita semuanya itu ketika berdemokrasi juga butuh piranti, yaitu keterampilan demokrasi. Dan untuk itulah, Program Sekolah Demokrasi. Jadi kita tidak bisa mengharapkan sekarang juga demokrasi, kayaknya sekarang belum ke sana.
Narasumber kedua, Ari Wahyu Astuti, menjelaskan bahwa pada dasarnya ketika kita mengikuti proses dalam Sekolah Demokrasi pertama, baginya sendiri memang banyak hal yang perlu dipelajari disana. Apalagi ia merasa termasuk di partai politik begitu, bagaimana kita membawa aspirasi, bagaimana partai politik harus berperan. Dan pada implementasinya, sangat kurang untuk mengetahui bagaimana berdemokrasi secara santun. Begitu kran demokrasi ini dibuka, semua orang seakan-akan punya kebebasan untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan argumentasinya. Tetapi juga, hal itu kan setiap orang berbeda. Bagaimana menghargai pendapat dan perbedaan, itu seharusnya yang kita tanamkan pada semua, apalagi pada pelaku-pelaku kebijakan, tokoh-tokohnya, sehingga semua bisa santun, saling menghargai dan tidak anarkhi. Dalam menyampaikan aspirasi sering yang “pokoknya-pokoknya”, ini yang dalam Sekolah Demokrasi banyak sekali kita ambil manfaatnya. Itu memang sangat perlu dan banyak yang harus terlibat dalam Sekolah Demokrasi, tidak hanya pelaku kebijakan, tokoh-tokoh politik, memang itu utamanya. Selain di partai politik juga melakukan pengkaderan itu juga memberikan wawasan demokrasi itu sendiri. Tetapi dalam hal ini Sekolah Demokrasi itu kan independen. Tidak terpancang pada salah satu partai politik, sehingga hal ini lebih mudah untuk berdemokrasi yang baik untuk mencapai tujuan yang kita harapkan.
Narasumber ketiga, Puji Hariwati, menambahkan bahwa ketika ada kesempatan untuk ikut dalam Sekolah Demokrasi. Ia berpikir Sekolah Demokrasi sepertinya adalah wilayah-wilayah orang politik, wilayahnya orang-orang pemerintahan. Sebenarnya demokrasi itu di temukan dimana saja. Nah ia sebagai seorang pendidik marasa prihatin ketika pesta demokrasi di Indonesia, itu memakan korban kawula muda, anak-anak yang seusia sekolah. Hal itu mereka tidak mengerti sebaiknya demokrasi itu harus bagaimana, cara-caranya yang disalurkan untuk bisa menyampaikan aspirasinya, maka ia terpanggil untuk membekali anak didiknya. Bu Puji adalah guru di SMA Negeri I Gondang Legi dimana, siswa-siswanya sebagai pemilih sebagai pemula perlu dibekali, sehingga jangan sampai terjadi hal-hal yang salah pada siswanya. Menurutnya pendidikan politik itu bagus untuk segala aspek, tidak hanya bagi bu Ari dari dewan, pemerintahan, tetapi menurutnya pondasi yang kuat harus pada basis pendidikan. Anak-anak SMA belum mengerti benar, untuk itu pembekalan politik bagi anak-anak seusia SMA sangat diperlukan, sehingga ketika ia ditugaskan untuk membuat kegiatan inisiasi, ia melakukan inisiasi di sekolah. Saya jaring anak-anak SMA di sekitar SMA Negeri Gondang Legi, ada beberapa SMA, kemarin nampaknya anak-anak cukup antusias tertarik, karena sampai sekarang ini mereka blank, dibekali begini, untuk apa harus mesti tawuran, kita mesti memakai demokrasi secara santun, arif, dan tidak ngawur.
Dilanjutkan sesi dialog atau tanyajawab, antara lain: 1). Budi dari Karangploso Malang; Kami hanya ingin menyarankan berdasarkan sesuatu yang telah kita ikuti dalam program Sekolah Demokrasi, baik angkatan angkatan tahun I maupun angkatan tahun II. Ada yang bisa kita nilai dari sekian peserta yang ada kurang betul-betul maksimal. Maka ia menyarankan bahwa angkatan tahun III ini diharapkan yang terpilih orang-orang yang berkompeten dengan masalah demokrasi tentunya. Diupayakan dari sekian peserta yang akan direkrut nanti, bisa maksimal. Jadi, mulai pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir diupayakan bisa hadir. 2). Tugi dari Blimbing Malang, pertama mendengarkan tentang Sekolah Demokrasi. Kedua mau bertanya sejauh mana demokrasi itu bisa berjalan, kita tahu partai yang mengusung demokrasi saja, misalnya dalam pilkada masih ingin menang sendiri, dan mau mengakui, inginnya menang, tak mau kalah. Dalam suasana demokrasi harus adanya suasana siap menang siap kalah.
3). Marzuki dari Tanjung Malang, ingin mengetahui tentang Sekolah Demokrasi. Sebagaian masyarakat masih tidak paham gelar Sekolah Demokrasi. Kedua, ia menanyakan pendaftaran Sekolah Demokrasi di Malang Raya. Dan tujuan Sekolah Demokrasi ini, secara pemikiran baik etika moral dan lain-lain apa nanti bisa membentuk moral masyarakat. Kebanyakan masyarakat ikut Sekolah Demokrasi untuk berdemokrasi, ia khawatir karena ia adalah anggota partai politik, politik menghalalkan segala cara. 4). Dika dari Semanggi Malang, adalah seorang siswa, maka ia ingin bertanya bagaimana peran sebagai alumni Sekolah Demokrasi dalam memajukan generasi muda, apa lebih berperan aktif dalam kehidupan demokrasi.
5). Lanang dari Sawojajar Malang, menanyakan khusus masalah demokrasi, apa sebenarnya demokrasi. Masalah negara kita lebih dari setengah abad pakai demokrasi itu tidak berhasil. Negara-negara yang menjalan demokrasi seperti Perancis, Inggris dan Amerika lebih banyak menjalani imperialisme yang menurut UUD kita di larang. 6). Kamil dari Dinoyo Malang; menanyakan persyaratan untuk mendaftar Sekolah Demokrasi.. Karena salah satu persyaratan itu harus orang Malang. Ia asli orang Blitar ingin sekali ikut Sekolah Demokrasi. 7). Budi dari Karangploso Malang, ia menanyakan apakah boleh mendidirikan Sekolah Demokrasi di luar Malang, dan apa alasannya.
Tanggapan narasumber, bahwa demokrasi itu harus diikhtiarkan, karena demokrasi ini justru akan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk menyampaikan ide dan pendapatnya tentang apa saja yang terjadi dalam pemerintahan kita. Tentunya, itu semua telah diatur sesuai dengan norma dan budaya kita yang berlaku. Sekali lagi, sebagai bagain dari upaya kita untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis dengan melaksanakan Program Sekolah Demokrasi.
Pada kesempatan ini, tema yang diangkat dirasa sangat penting untuk kepentingan Program Sekolah Demokrasi dalam rangka mensosialisaikan kegiatannya sekaligus rekrutmen peserta angkatan tahun III. Namun, disi lain, juga dapat dilihat dari perkembangan demokrasi yang berjalan di Indonesia, sehingga dirasa perlu adanya pendidikan bagi masyarakat atau melalui para tokoh atau aktor-aktornya. Dengan harapan kegiatan ini mampu berjalan dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kebaikan bangsa ini, khususnya dimasyarakat sekitar.
Talkshow ini dipandu oleh presenter Sutomo, presenter mengawali dengan menyapa para narasumber, antara lain: Ari Wahyu Astuti, Puji Hariwati dan Heri Setiyono. Presenter mengawali dengan mengilustrasikan beberapa hal yang terkait dengan upaya mengkrabkan diri dengan masyarakat umum. Program ini telah berjalan selama dua tahun yang dilaksanakan teman-teman PLaCIDs Averroes, dengan harapan demokrasi yang sudah berjalan di negara kita di bangsa Indonesia ini, bisa berjalan yang lebih berkualitas.
Narasumber pertama, Heri Setiyono, membincang sedikit mengenai apa itu Program Sekolah Demokrasi. Demokrasi sekarang sudah menjadi trend di negara kita dan juga di seluruh dunia. Sedikit-sedikit kita ngomong demokrasi, bahkan segala sesuatu kita kaitkan dengan demokrasi. Bahkan juga ada negara yang meskipun monarkhi, sosialis sekalipun sering mengucapkan demokrasi. Pemimpin yang otoriter dan tiranipun sering mengaku demokratis. Tapi seringkali justru di tataran implementasi kadang-kadang jauh dari demokrasi. Padahal sebetulnya semua aspek di masyarakat itu harus kita demokratisasikan. Cara kita bertetangga itu harus demokratis, cara kita bekerja juga harus demokratis, cara bergaul kita sebagai warga negarapun harus demokratis, itu kalau kita masyarakat.
Tapi kalau kita sebagai aparatur negara, tetap juga harus demokratis. Bagaimana seorang pamong praja, seorang pelayan masyarakat, seorang pejabat itu harus demokratis dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pun juga partai politik tentunya, justru yang harusnya paling serius untuk mendemokratisasi dirinya adalah partai politik. Karena jembatan antara masyarakat dan negara dalam ranah bidang politis adalah aktivis partai. Dan ini sangat penting untuk mengerti apa itu demokrasi. Begitu pula dengan kalangan pengusaha. Nah semua kalangan masyarakat, kalangan birokrasi negara, kalangan partai politik, kalangan pengusahan ini yang menjadi sasaran demokratisasi yang sesungguhnya. Agar pertama tahu apa itu demokrasi, yang kedua kemudian bisa melaksanakan demokrasi. Lha dari greget itulah Program Sekolah Demokrasi itu di adakan agar kita bersama-sama belajar, mengkaji dan juga melaksanakan apa itu demokrasi di Malang ini. Terutama karena Malang, kami pikir di program itu adalah Malang Raya ini wilayah yang paling serius sebagai sasaran untuk berdemokrasi. Yang pertama karena faktor budaya, faktor pendidikan, faktor kehidupan sosial politiknya, kiranya harus kita sisir demokrasinya.
Kami percaya betul, bahwa sebetulnya demokrasi itu sebagai suatu investasi sebetulnya. Ya kita tahulah bahwa negara ini dalam masa transisi demokrasi begitu, dalam masa itu maka yang harus kita siapkan adalah perangkat-perangkat lunaknya demokrasi, nilai-nilainya yang kita sasar. Kalau sekarang demokrasi itu tidak berjalan, bukan berarti demokrasi itu tidak tepat dilaksanakan. Tetapi demokrasi memang butuh waktu yang panjang. Sama halnya dengan pendidikan. Aspek yang penting dalam hidup sebenarnya pendidikan, bahkan dalam ajaran agama pendidikan itu wajib dari lahir sampai mati.
Demokrasi ia pikir, adalah gerakan di aspek pendidikannya, karena yang disasar adalah nilai. Jadi nilai-nilai demokrasi itu seharusnya sejak awal sudah mulai di pupuk. Sedini mungkin nilai demokrasi dipupuk, berkembang kemudian kalau untuk pengimplementasian demokrasi itu butuh apa? Butuh pengetahuan demokrasi. Pengetahuan demokrasi, jadi agar demokrasi tidak disalah artikan. Jangan-jangan kayak apa sih demokrasi itu? Jadi kita akan menemukan bentuk demokrasi, bagian yang terpenting juga keterampilan demokrasi. Karena kita semuanya itu ketika berdemokrasi juga butuh piranti, yaitu keterampilan demokrasi. Dan untuk itulah, Program Sekolah Demokrasi. Jadi kita tidak bisa mengharapkan sekarang juga demokrasi, kayaknya sekarang belum ke sana.
Narasumber kedua, Ari Wahyu Astuti, menjelaskan bahwa pada dasarnya ketika kita mengikuti proses dalam Sekolah Demokrasi pertama, baginya sendiri memang banyak hal yang perlu dipelajari disana. Apalagi ia merasa termasuk di partai politik begitu, bagaimana kita membawa aspirasi, bagaimana partai politik harus berperan. Dan pada implementasinya, sangat kurang untuk mengetahui bagaimana berdemokrasi secara santun. Begitu kran demokrasi ini dibuka, semua orang seakan-akan punya kebebasan untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan argumentasinya. Tetapi juga, hal itu kan setiap orang berbeda. Bagaimana menghargai pendapat dan perbedaan, itu seharusnya yang kita tanamkan pada semua, apalagi pada pelaku-pelaku kebijakan, tokoh-tokohnya, sehingga semua bisa santun, saling menghargai dan tidak anarkhi. Dalam menyampaikan aspirasi sering yang “pokoknya-pokoknya”, ini yang dalam Sekolah Demokrasi banyak sekali kita ambil manfaatnya. Itu memang sangat perlu dan banyak yang harus terlibat dalam Sekolah Demokrasi, tidak hanya pelaku kebijakan, tokoh-tokoh politik, memang itu utamanya. Selain di partai politik juga melakukan pengkaderan itu juga memberikan wawasan demokrasi itu sendiri. Tetapi dalam hal ini Sekolah Demokrasi itu kan independen. Tidak terpancang pada salah satu partai politik, sehingga hal ini lebih mudah untuk berdemokrasi yang baik untuk mencapai tujuan yang kita harapkan.
Narasumber ketiga, Puji Hariwati, menambahkan bahwa ketika ada kesempatan untuk ikut dalam Sekolah Demokrasi. Ia berpikir Sekolah Demokrasi sepertinya adalah wilayah-wilayah orang politik, wilayahnya orang-orang pemerintahan. Sebenarnya demokrasi itu di temukan dimana saja. Nah ia sebagai seorang pendidik marasa prihatin ketika pesta demokrasi di Indonesia, itu memakan korban kawula muda, anak-anak yang seusia sekolah. Hal itu mereka tidak mengerti sebaiknya demokrasi itu harus bagaimana, cara-caranya yang disalurkan untuk bisa menyampaikan aspirasinya, maka ia terpanggil untuk membekali anak didiknya. Bu Puji adalah guru di SMA Negeri I Gondang Legi dimana, siswa-siswanya sebagai pemilih sebagai pemula perlu dibekali, sehingga jangan sampai terjadi hal-hal yang salah pada siswanya. Menurutnya pendidikan politik itu bagus untuk segala aspek, tidak hanya bagi bu Ari dari dewan, pemerintahan, tetapi menurutnya pondasi yang kuat harus pada basis pendidikan. Anak-anak SMA belum mengerti benar, untuk itu pembekalan politik bagi anak-anak seusia SMA sangat diperlukan, sehingga ketika ia ditugaskan untuk membuat kegiatan inisiasi, ia melakukan inisiasi di sekolah. Saya jaring anak-anak SMA di sekitar SMA Negeri Gondang Legi, ada beberapa SMA, kemarin nampaknya anak-anak cukup antusias tertarik, karena sampai sekarang ini mereka blank, dibekali begini, untuk apa harus mesti tawuran, kita mesti memakai demokrasi secara santun, arif, dan tidak ngawur.
Dilanjutkan sesi dialog atau tanyajawab, antara lain: 1). Budi dari Karangploso Malang; Kami hanya ingin menyarankan berdasarkan sesuatu yang telah kita ikuti dalam program Sekolah Demokrasi, baik angkatan angkatan tahun I maupun angkatan tahun II. Ada yang bisa kita nilai dari sekian peserta yang ada kurang betul-betul maksimal. Maka ia menyarankan bahwa angkatan tahun III ini diharapkan yang terpilih orang-orang yang berkompeten dengan masalah demokrasi tentunya. Diupayakan dari sekian peserta yang akan direkrut nanti, bisa maksimal. Jadi, mulai pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir diupayakan bisa hadir. 2). Tugi dari Blimbing Malang, pertama mendengarkan tentang Sekolah Demokrasi. Kedua mau bertanya sejauh mana demokrasi itu bisa berjalan, kita tahu partai yang mengusung demokrasi saja, misalnya dalam pilkada masih ingin menang sendiri, dan mau mengakui, inginnya menang, tak mau kalah. Dalam suasana demokrasi harus adanya suasana siap menang siap kalah.
3). Marzuki dari Tanjung Malang, ingin mengetahui tentang Sekolah Demokrasi. Sebagaian masyarakat masih tidak paham gelar Sekolah Demokrasi. Kedua, ia menanyakan pendaftaran Sekolah Demokrasi di Malang Raya. Dan tujuan Sekolah Demokrasi ini, secara pemikiran baik etika moral dan lain-lain apa nanti bisa membentuk moral masyarakat. Kebanyakan masyarakat ikut Sekolah Demokrasi untuk berdemokrasi, ia khawatir karena ia adalah anggota partai politik, politik menghalalkan segala cara. 4). Dika dari Semanggi Malang, adalah seorang siswa, maka ia ingin bertanya bagaimana peran sebagai alumni Sekolah Demokrasi dalam memajukan generasi muda, apa lebih berperan aktif dalam kehidupan demokrasi.
5). Lanang dari Sawojajar Malang, menanyakan khusus masalah demokrasi, apa sebenarnya demokrasi. Masalah negara kita lebih dari setengah abad pakai demokrasi itu tidak berhasil. Negara-negara yang menjalan demokrasi seperti Perancis, Inggris dan Amerika lebih banyak menjalani imperialisme yang menurut UUD kita di larang. 6). Kamil dari Dinoyo Malang; menanyakan persyaratan untuk mendaftar Sekolah Demokrasi.. Karena salah satu persyaratan itu harus orang Malang. Ia asli orang Blitar ingin sekali ikut Sekolah Demokrasi. 7). Budi dari Karangploso Malang, ia menanyakan apakah boleh mendidirikan Sekolah Demokrasi di luar Malang, dan apa alasannya.
Tanggapan narasumber, bahwa demokrasi itu harus diikhtiarkan, karena demokrasi ini justru akan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk menyampaikan ide dan pendapatnya tentang apa saja yang terjadi dalam pemerintahan kita. Tentunya, itu semua telah diatur sesuai dengan norma dan budaya kita yang berlaku. Sekali lagi, sebagai bagain dari upaya kita untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis dengan melaksanakan Program Sekolah Demokrasi.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















