SIMPUL - Program Sekolah Demokrasi (PSD) di Kabupaten Malang, dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas wacana demokrasi (quality of discourse) dan kuantitas partisipasi demokrasi (quantity of participation). Dalam melaksanakan program tersebut tentunya berhadapan dengan berbagai...
Program Sekolah Demokrasi (PSD) di Kabupaten Malang, dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas wacana demokrasi (quality of discourse) dan kuantitas partisipasi demokrasi (quantity of participation).
Dalam melaksanakan program tersebut tentunya berhadapan dengan berbagai hal yang menjadi penghambat maupun pendukung dalam mencapai harapan tersebut di atas. Sampai saat ini, program maupun kegiatan yang telah berjalan masih terjebak oleh formalisme, tanpa adanya sustinable program.
Melaui PSD, berorientasi pada upaya mempersiapkan para aktor demokrasi di Kabupaten Malang agar dapat lebih siap dan tepat-guna dalam merespon dan menyelesaikan problem aktual demokrasi, baik struktural maupun kultural melalui aksi-aksi demokratisasi di level lokal. Sehingga, dalam program ini juga harus mengenal berbagai macam issu – issu aktual di kabupaten Malang, agar terdapat referansi dalam membuat case study yang lebih aplikatif dan membasis. Hal demikian dapat diketahui dengan mengadakan pembacaan terhadap realitas lokal Kabupaten Malang, serta Malang Raya pada umumnya.
Secara konseptual, kegiatan tersebut tentunya mempunyai nilai yang sangat positif dalam rangka upaya demokratisasi dengan mengajak masyarakat secara bersama-sama berpartisipasi menentukan suatu program sesuai dengan kebutuhannya. Namun, dalam tataran praktisnya seringkali kegiatan-kegiatan tersebut lebih berorientasi kepada formalisme program dari pada lebih mengedepankan substansi dari sebuah program. Dan tidak jarang dihadiri oleh kalangan masyarakat tingkat menengah keatas (elit) saja. Alhasil, kebutuhan yang diusulkan masih belum banyak berpihak kepada kelompok masyarakat bawah.
Dari gambaran di atas, ada beberapa hal yang dijadikan bahan refleksi dari kegiatan tersebut, yaitu; bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan, sudah sesuaikah dengan konsep yang ada?, bagaimana jika dilihat dari aspek kualitas dan kuantitas kegiatan tersebut ? serta bagaimana jika dilihat dari aspek kebutuhan dan harapannya?.
Beberapa refleksi tersebut, dalam Talkshow II Program Sekolah Demokrasi di RRI Malang pada Kamis, tanggal 29 Maret 2007, pukul 08.00 – 09.00 WIB (On Air) mengambil tema “Musrenbang: antara Kebutuhan dan Harapan di Kabupaten Malang” dengan narasumber: 1. Moh. Ihsan (Alumni Fasilitator SD tahun I dan Direktur LSM Satu Indonesia ); 2. Sutomo, Fasilitator Program Sekolah Demokrasi. Kita mencoba untuk mendialogkan secara langsung agar masyarakat umum mengetahui dan menganalisa secara obyektif dan menemukan kritik dan saran dalam perbaikan program.
Dalam melaksanakan program tersebut tentunya berhadapan dengan berbagai hal yang menjadi penghambat maupun pendukung dalam mencapai harapan tersebut di atas. Sampai saat ini, program maupun kegiatan yang telah berjalan masih terjebak oleh formalisme, tanpa adanya sustinable program.
Melaui PSD, berorientasi pada upaya mempersiapkan para aktor demokrasi di Kabupaten Malang agar dapat lebih siap dan tepat-guna dalam merespon dan menyelesaikan problem aktual demokrasi, baik struktural maupun kultural melalui aksi-aksi demokratisasi di level lokal. Sehingga, dalam program ini juga harus mengenal berbagai macam issu – issu aktual di kabupaten Malang, agar terdapat referansi dalam membuat case study yang lebih aplikatif dan membasis. Hal demikian dapat diketahui dengan mengadakan pembacaan terhadap realitas lokal Kabupaten Malang, serta Malang Raya pada umumnya.
Secara konseptual, kegiatan tersebut tentunya mempunyai nilai yang sangat positif dalam rangka upaya demokratisasi dengan mengajak masyarakat secara bersama-sama berpartisipasi menentukan suatu program sesuai dengan kebutuhannya. Namun, dalam tataran praktisnya seringkali kegiatan-kegiatan tersebut lebih berorientasi kepada formalisme program dari pada lebih mengedepankan substansi dari sebuah program. Dan tidak jarang dihadiri oleh kalangan masyarakat tingkat menengah keatas (elit) saja. Alhasil, kebutuhan yang diusulkan masih belum banyak berpihak kepada kelompok masyarakat bawah.
Dari gambaran di atas, ada beberapa hal yang dijadikan bahan refleksi dari kegiatan tersebut, yaitu; bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan, sudah sesuaikah dengan konsep yang ada?, bagaimana jika dilihat dari aspek kualitas dan kuantitas kegiatan tersebut ? serta bagaimana jika dilihat dari aspek kebutuhan dan harapannya?.
Beberapa refleksi tersebut, dalam Talkshow II Program Sekolah Demokrasi di RRI Malang pada Kamis, tanggal 29 Maret 2007, pukul 08.00 – 09.00 WIB (On Air) mengambil tema “Musrenbang: antara Kebutuhan dan Harapan di Kabupaten Malang” dengan narasumber: 1. Moh. Ihsan (Alumni Fasilitator SD tahun I dan Direktur LSM Satu Indonesia ); 2. Sutomo, Fasilitator Program Sekolah Demokrasi. Kita mencoba untuk mendialogkan secara langsung agar masyarakat umum mengetahui dan menganalisa secara obyektif dan menemukan kritik dan saran dalam perbaikan program.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















