SIMPUL - Talkshow televisi di Batu TV 9 dilaksanakan pada 26 Desember 2007. Tema ini sebagai bagian dari komitmen Program Sekolah Demokrasi dan masyarakat dalam ikut serta membincang dan mencarikan alternatif solusi bagi perbaikan kualitas pembangunan yang lebih demokratis, termasuk didalamnya...
Talkshow RRI III ini dilaksanakan pada 8 Juni 2006, diawali moderator dari pihak RRI yaitu bapak Anang untuk mengantarkan tema dialog ini dengan kilasan demokrasi. Dilanjutkan dengan narasumber pertama, Henry Wira Novianto, yang memaparkan tentang demokrasi dan generasi muda yang perkembangannya dipengaruhi oleh budaya Timur dan Barat. Dan di sambung dengan narasumber ke-2, Mutthollaul Anwar, dengan semangat memaparkan bahwa generasi muda saat ini gregetnya mulai menurun karena mengalami degradasi paradigma. Dengan indikasi generasi muda sekarang ini terjebak dalam pembicaraan dan kegiatan entertainment saja dan tidak lagi membincangkan persoalan – persoalan sosial politik kemasyarakatan seperti di masa tahun 70 - 90an. Pada saat reformasi sebagai mementum ang bisa dijadikan klaim bagi generasi Musa sebagai bagian dari keberhasilan perjuangnnya. Namun hal itu tidak disadari pasca reformasi jauh terjadi degradasi gerakan generasi muda / mahasiswa. Hal ini dapat diindikasikan dengan berbagai gerakan yang dilakukan mahasiswa tidak solid atau terjadi fragmentasi gerakan. Setelah itu, disambung dengan narasumber berikutnya, yaitu: Siti Lailatus Sofiyah juga membincang bahwa perubahan di Indonesia selama ini mulai pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan (Orde Lama), Orde Baru, Reformasi, dan Pasca Reformasi hingga saat ini, semua gerakan tersebut selalu dimotori oleh generasi muda yang meliputi diantaranya organisasi mehasiswa, organisasi kepemudaan, dan organisasi kemasyarakatan yang mempunyai semangat yang luar biasa. Jargon yang melekat pada generasi muda adalah agent of social control, agent of social change, dan agent of social movement. Disambung dengan narasumber yang terakhir, Any Rufaidah, yang menjelaskan bahwa bentuk nasionalisme generasi muda dikuatkan dengan adanya sumpah pemuda. Dan dengan keyakinan semua gerasi muda pasti mengakui adanya sumpah pemuda. Tetapi perwujudan dari rasa nasionalisme generasi muda tidak lepas dari perkembangan peradaban dunia Barat dan Timur.
Dalam talkshow ini, terdapat tiga orang penanya (Bung Indra dua kali bartanya, Mbah Parman, dan Pak Agus Tanjung). Bung Indra memaparkan dahulu kala berjuang dengan menyebut “Allahu Akbar” itu untuk mengusir penjajah, dan ia juga managaskan bahwa negara Indonesia itu “Gemah Ripah Lohjinawi”. Dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa apabila diterapkan “Otonomi Daerah” yang baik, maka ia yakin masyarakat dapat mengelola dan mengetahui kebutuhannya sendiri. Kedua, dengan adanya SDA di Indonesia yang membedakan dengan SDA negara lain yang cuma sedikit, maka ia menyarankan bahwa generasi muda dapat belajar keluar negeri untuk mengambil ilmu-ilmunya dan nantinya diterapkan di negara Indonesia, agar dapat mengelola SDA bangsa Indonesia sendiri supaya tidak diambil negara lain.
Penanya kedua, Mbah Parman, menegaskan bahwa generasi muda adalah tulang punggung bangsa sehingga perlu dibangun jiwa dan raganya, seperti lagu karya cipta WR. Supratman dalam lagu Indonesia Raya. Demikian pula dengan penanya ketiga, Pak Agus Tanjung, mengingatkan kembali bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus berdikari mandiri, sehingga generasi muda dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan akan meneruskan dan semestinya harus siap menjadi “Pucuk Pimpinan” karena generasi muda merupakan penerus bangsa Indonesia.
Dalam talkshow ini, terdapat tiga orang penanya (Bung Indra dua kali bartanya, Mbah Parman, dan Pak Agus Tanjung). Bung Indra memaparkan dahulu kala berjuang dengan menyebut “Allahu Akbar” itu untuk mengusir penjajah, dan ia juga managaskan bahwa negara Indonesia itu “Gemah Ripah Lohjinawi”. Dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa apabila diterapkan “Otonomi Daerah” yang baik, maka ia yakin masyarakat dapat mengelola dan mengetahui kebutuhannya sendiri. Kedua, dengan adanya SDA di Indonesia yang membedakan dengan SDA negara lain yang cuma sedikit, maka ia menyarankan bahwa generasi muda dapat belajar keluar negeri untuk mengambil ilmu-ilmunya dan nantinya diterapkan di negara Indonesia, agar dapat mengelola SDA bangsa Indonesia sendiri supaya tidak diambil negara lain.
Penanya kedua, Mbah Parman, menegaskan bahwa generasi muda adalah tulang punggung bangsa sehingga perlu dibangun jiwa dan raganya, seperti lagu karya cipta WR. Supratman dalam lagu Indonesia Raya. Demikian pula dengan penanya ketiga, Pak Agus Tanjung, mengingatkan kembali bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus berdikari mandiri, sehingga generasi muda dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan akan meneruskan dan semestinya harus siap menjadi “Pucuk Pimpinan” karena generasi muda merupakan penerus bangsa Indonesia.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|

