SIMPUL - Indonesia adalah negara yang dihuni umat dari 6 agama resmi dan beberapa agama “tak resmi”. Semua membawa ajaran, atribut, dan tradisi yang berbeda. Bahkan, dalam satu agama, tumbuh jamaah-jamaah yang memiliki perbedaan satu sama lain. Dalam Islam misalnya, ada NU, Muhammadiyah, Masyumi.
Di dalam Kristen kita menjumpai Kristen Protestan dan Kristen Ortodok. Di dalam Buddha kita menjumpai aliran Hinayana dan Mahayana. Dengan realitas ini, kita bisa membayangkan bagaimana hebatnya konflik yang terjadi jika masing-masing agama tidak saling terbuka dan tidak saling memahami satu dengan yang lain. Tidak saling menerapkan nilai-nilai demokratis yang sedang dibangun di Indonesia. Catatan sejarah setidaknya telah menunjukkan konflik-konflik tersebut.
Kita pernah menemukan penganiayaan warga keturunan Tionghoa pada saat meletusnya aksi reformasi, kasus Sampit, perusakan aset bangunan Ahmadiyah, pembakaran gereja, perang sipil di Maluku dan Sulawesi Tengah, kasus Madi, dan kasus-kasus lain yang tidak terpublikasi.
Di luar era reformasi, kita menemukan larangan pertunjukan Barongsai yang merupakan kesenian umat Khonghucu. Kekerasan-kekerasan tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga kerugian sosial. Instabilitas, semakin lebarnya sekat kerukunan, dan disharmonisasi antaragama adalah harga mahal yang harus kita bayar. Fenomena ini tentu tidak berangkat dari kebutaan. Banyak faktor yang melatarbelakangi. Keberagamaan yang terjebak pada ritual-ritual, fanatisme, eksklusivitas, represi negara, kepentitangan llmu pengetahuan, adalah beberapa penyebab timbulnya konflik antaragama.
Hal ini sudah selayaknya menjadi keprihatinan. Pertama, karena menodai agama yang sangat menekankan perdamaian, kedua, mengingkari nilai-nilai demokrasi yang telah lama menjadi cita-cita bangsa. Kita tentu tidak menginginkan kesalahpahaman antaragama yang berujung pada kekerasan selalu dijadikan alasan. Maka, di sinilah perlunya melakukan upaya dialog antaragama secara berkesinambungan. Dialog antaragama tetap perlu diupayakan meskipun menurut beberapa pendapat baru upaya ini tidak lagi relevan, sebab konflik antaragama lebih disebabkan oleh instabilitas sosial, ekonomi, atau politik.
Agama hanya second factor, sehingga pendekatan dialog tidak lebih penting dari upaya stabilisasi kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Tetapi kita tidak memiliki penjelasan memadai jika konflik yang selalu melibatkan agama tidak diselesaikan dengan pendekatan agama pula. Kita tidak mungkin hanya menggunakan pendekatan politik, ekonomi, atau sosial sementara dalam konflik-konflik yang terjadi kita melihat unsur kesalahpahaman dan sentimen agama yang cukup jelas.
Konflik-konflik antaragama bagaimana pun tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan agama itu sendiri. Bagaimana umat beragama memaknai dan memahami agama yang mereka anut adalah faktor yang secara pasti terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Agama yang dimaknai keras akan membentuk karakter yang keras, begitu pula sebaliknya. Agama yang dimaknai lembut akan membangun karakter lembut. Sekarang kita tilik, bagaimana kecenderungan masyarakat Indonesia yang menganut agama masing-masing memahami agama dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai evidensi dan pemikiran kontemporer yang telah menganalisis realitas keberagamaan di Indonesia secara mendalam ternyata menunjukkan bahwa keberagamaan di Indonesia masih terjebak pada ritual-ritual dan simbolisme semata.
Hal yang dipegang dari agama adalah ritual dan simbol, bukan esensi agama itu sendiri. Kondisi ini sangat berbahaya, sebab ritual-ritual dan simbol-simbol adalah elemen agama yang bersifat permukaan yang membuat umat tidak mampu menyerap makna agama. Romo Benny Susetyo membenarkan hal ini. Ia mengungkapkan, penghayatan agama yang jatuh pada simbolisme akan membuat orang tidak mampu menyelami kedalaman hakikat agama. (Susetyo dalam Haryono, dkk, 2007: 162).
Akhirnya, setiap orang hanya sibuk pada urusan ritual dan pertahanan simbol-simbol. Buntutnya, fanatisme berlebihan dan sensitivitas terhadap agama lain muncul dengan pesat. Hal ini sangat logis, sebab ritual dan simbol adalah persoalan identitas. Ketika identitas disentuh, sensitivitas mudah terpancing. Terlebih, identitas yang langsung menyentuh keyakinan. Kita memahami kondisi ini, tetapi, bukankah identitas keberagamaan tidak hanya berbicara masalah identitas yang tampak? Sikap menghormati, menghargai, inklusif, lembut, cinta kasih, dan lain sebagainya adalah identitas keberagamaan pula. Identitas yang terakhir inilah yang terabaikan dari pikiran umat beragama di Indonesia.
Keterangan Buku Seri Demokrasi XI
Judul: Agama dan Demokrasi
Penerbit: Program Sekolah Demokrasi dan Averroes Press
Penulis: Any Rufaidah, Levi Riansyah, Edi Purwanto, M. Romdlon
Penyunting: Any Rufaidah
Cetakan I, Desember 2008
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















SIMPUL - Sebagai upaya untuk mengoptimalisasikan fungsi posyandu, untuk kedua kalinya Dinas Kesehatan Kota Surabaya bekerja sama d...
SIMPUL - Banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri seharusnya tidak membuat pemerintah malu. Pemerintah j...
apakah alat peraga ini dapat diterima...
Anda bisa mendownload Daftar Peserta ...
kok belum diupdate..? padahal skrg tg...
thanks untuk test yang boleh saya iku...
trlalu sngkat............... bza dprp...