Simpul Demokrasi

Friday
Jul 30th
  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Cari
  • English Dutch Indonesian
Home Pojok Ngalam Menyambangi Bedah Rumah Gakin ala Pemkot Batu

Menyambangi Bedah Rumah Gakin ala Pemkot Batu

E-mail Cetak PDF

SIMPUL - Pemkot Batu memiliki program bedah rumah untuk keluarga miskin (gakin). Sebanyak 116 rumah dinyatakan tidak layak dan butuh dibangun, 16 rumah dulu jadi pilot project. Memang tak layak Kota Wisata bersanding dengan kemiskinan akut.

---

NENEK Pasri tak henti hentinya tersenyum. Wanita 87 tahun warga Dusun Dresel RT 2/8 Desa Oro-oro Ombo ini merasa bahagia melihat rumahnya yang sedang dibedah sudah berbeda temboknya.

Nenek yang kini sementara tinggal di kandang bebek itu seperti lupa tentang derita hidupnya selama puluhan tahun. "Kulo matur nuwun sanget, kok wonten seng purun mbangunaken griyo kulo. (Saya berterima kasih sekali kok ada yang mau membangun rumah saya)," ujarnya.


Istri Kakek Sadiwarno, 90, ini tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika rumah gedek ukuran 4 x 10 meter persegi yang reot itu akan disulap menjadi rumah layak huni. Puluhan tahun dia tempati rumah yang hanya beralas tanah itu, tetapi sebentar lagi dia akan menempati rumah seperti rumah "gedong". Ya, setelah sempat tertunda pembangunannya karena masalah miskomunikasi antara pihak aparat desa dan Pemkot Batu, akhirnya mulai 1 Maret lalu, rumah Nenek Pasri dibangun. Dari pantauan Radar Sabtu (13/3) lalu, rumah itu sudah dipasangi genteng.

Pasangan kakek-nenek itu memang tak punya pekerjaan yang menjanjikan. Kakek Sadiwarno hanya seorang juru kunci makam. Sehari-hari dia bekerja seadanya kadang menjadi buruh kadang mencari kayu di hutan. Pasangan ini punya satu anak perempuan bernama Sunarsih yang kini tinggal di sebelah timur rumahnya. Sunarsih bekerja sebagai tukang pijat yang cukup laris. Meski demikian, rumahnya juga bagus berkeramik putih dan bersih. Tapi, Kakek Sadiwarno dan Nenek Pasri tidak pernah bersedia diminta tidur di rumah anaknya yang tidak memiliki anak itu. Keduanya memilih tinggal di rumah aslinya bersama anak angkatnya, Alimah yag memiliki satu anak kecil. Rumah itu juga telah diberikan oleh pasangan kakek nenek itu kepada anak angkatnya itu.

Saat Radar ke rumah Nenek Pasri sebelum dibongkar, kondisinya sangat memprihatinkan. Bertembok gedek yang sudah usang dan banyak yang bolong. Namun, saat Sabtu lalu, Radar kembali berkunjung, rumah itu telah berubah total. Tembok yang terbuat dari bata itu sudah berdiri mengelilingi rumah. Bagian dalam telah tersekat tembok dan dipasang atap genteng. Tampak sejumlah pekerja masih sibuk memoles tembok.

"Setelah dipoles pelur (semen campur pasir) dan dipoles lagi dengan semen cair, tembok siap dicat," kata salah satu pekerja.

Sejumlah warga dan CPNS Pemkot Batu yang disebar ke dusun itu juga ikut sibuk melayani tukang batu. Rumah yang sudah berdiri temboknya itu, ukurannya diubah dari ukuran semula. Pemkot Batu menyeragamkan rumah yang dibedah itu untuk dibangun dengan ukuran lebar 5 meter dengan panjang 6 meter. Lumayan "tipe 30". Ruangannya terdiri dari dua kamar, satu ruang tamu dan satu ruang tengah.

Bukan hanya Nenek Pasri yang ketiban untung. Nurhadi, 35, warga Dusun Dresel RT 3 RW 9 juga mendapatkan keberuntungan. Duda yang tinggal dengan anak gadisnya, Dea Octavia Aisyah yang baru berumur 10 tahun itu juga senang, karena rumahnya dibangunkan pemkot. "Ya senang sekali. Tapi, saya juga sungkan Mas," ujarnya sembari menundukkan muka. Nurhadi mengaku sungkan karena dia masih kuat bekerja meski hasilnya tidak tentu. Maklum, bapak satu anak itu hanya pembuat cobek dari batu yang tergantung dengan perolehan batu. Kalau mendapat batu dari hutan yang bisa dibikin cobek, maka sudah tentu bisa memproduksi, tetapi jika tidak mendapat batu, kerjanya tidak berarti.

Rumah Nurhadi, walaupun dibangun lebih lebih akhir yakni pada Jumat (5/3) dan rumah Kakek Sadiwarno dibangun mulai Senin (1/3), tetapi, kondisi rumah Nurhadi sudah lebih baik. Malahan juga sudah ditempati meski masih terus disempurnakan. Rumah Nurhadi beratapkan asbes gelombang. Kini rumah mungil itu juga sudah ada pintunya, untuk pembangunan tinggal menyelesaikan pelur dan lantai.

Pemkot Batu memang menyediakan anggaran Rp 10 juta untuk satu rumah. Nantinya, ada 16 rumah yang diprioritaskan. Namun, selain anggaran itu, juga ada bantuan dari masyarakat sekitar dan pengusaha. Karena anggaran Rp 10 juta itu tentu belum bisa memenuhi bangunan fisik secara baik. "Tapi, meski belum sempurna, kami sudah sangat berterima kasih," ucap Nurhadi. Atas bantuan ini, Nurhadi berjanji tidak akan melupakan jasa-jasa perangkat desa dan Pemkot Batu. (lid/lia)

Sumber: Jawapos.co.id

+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.
+/- Komentar
Tambah Baru Cari

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."