Mereka Harus Angkat Kaki dari Pasar Dinoyo

Info Malang Raya  – Siang itu Suyuti (60) salah seorang pedagang di Pasar Dinoyo terlihat sibuk melayani pelanggannya. Sejak subuh tadi ia telah membuka lapak sembakonya di pasar yang berdekatan dengan Kampus Universitas Islam Malang dan tutup sekitar pukul 14.00. Sehari-hari Suyuti berjualan beras, minyak, gula pasir, kopi dan bahan pokok yang lainnya. Kebanyakan pelanggannya adalah ibu-ibu yang membutuhkan sembako untuk keperluan sehari-hari. Ada juga pelanggannya adalah orang yang memiliki kios di rumah atau di tempat lain. Mereka membeli sembako dari Suyuti untuk dijual kembali di kios yang mereka miliki.
 
Berbeda dengan Suyuti, Fauzi (27) salah seorang pedagang di Pasar Dinoyo lainnya nampak santai. Lapaknya terlihat lengang dari para pembeli. Maklum dilapaknya Fauzi sehari-hari berjualan pakaian. Selain musim lebaran biasanya memang tidak terlalu ramai pembeli.’’Dari tadi pagi bukanya. Nanti sore saya baru tutup,’’ kata Fauzi ketika ditemui Simpul Demokrasi di Pasar Dinoyo siang itu. Suyuti dan Fauzi merupakan bagian dari 1300 pedagang Pasar Dinoyo yang sebentar lagi harus angkat kaki dari pasar itu. Mereka meninggalkan lapak yang selama berpuluh-puluh tahun telah mereka manfaatkan sebagai tempat mengais rejeki sehari-hari. Sebentar lagi Pasar Dinoyo yang berstatus tradisional akan dimodernisasi oleh Pemerintah Kota Malang dengan menggandeng investor untuk dirubah menjadi sebuah mall.

 
 
Meski mengundang banyak keprihatinan dari berbagai pihak dan penolakan dari pedagang, rencana modernisasi Pasar Dinoyo menjadi sebuah mall tidak terhenti. Pemkot Malang dan investor yang kabarnya dari Surabaya tetap jalan terus dengan rencana awalnya: mengubah Pasar Dinoyo menjadi pusat perbelanjaan modern dan memindahkan aktivitas Pasar Dinoyo ke belakang ruko sebelah timur dekat Pasar Dinoyo saat ini. Total nilai investasi diperkirakan mencapai Rp 191,8 miliar dengan kompensasinya investor berhak mengelola pasar selama 30 tahun. 
 
Sikap pedagang terhadap rencana modernisasi Pasar Dinoyo pada awalnya ada dua macam. Pertama adalah mereka yang pada dasarnya menolak pembangunan karena takut kehilangan pelanggan. Kedua adalah pedagang dengan omzet yang relatif besar setuju dengan pembangunan karena berharap dengan adanya pembenahan pasar menjadi lebih baik sehingga omzet mereka semakin besar.’’Akan tetapi dalam perjalanan waktu rencana pembangunan pasar ini malah berpihak pada konsep pasar modern (baca: mall) dan menyingkirkan pedagang yang berjualan di sana.’’ kata Alimin, Sekretaris Persatuan Pedagang Pasar Dinoyo Kota Malang (P3DKM). 
 
Ia menambahkan, bila pembangunan pasar adalah hal yang sangat positif dan pihaknya menyetujuinya. Namun kata dia, mengapa para pedagang kecil yang harus dikorbankan. ’’Kita paham tidak punya hak milik, tetapi mengapa harus rakyat kecil yang dikorbankan,’’ cetusnya.
Sebenarnya pedagang Pasar Dinoyo sudah setuju dengan site plan awal modernisasi pasar dengan menggunakan konsep layaknya Pasar Besar Kota Malang yakni mengabungkan konsep pasar tradisional dengan pasar modern. Namun belakangan janji itu diingkari oleh Pemkot. Tersiar kabar bahwa dalam site plan pembangunan yang baru, Pasar Dinoyo saat ini akan dipindah. Ada dua kemungkinan, pertama para pedagang akan bangunkan Pasar Dinoyo baru di belakang ruko sebelah timur Pasar Dinoyo sekarang. Kedua, para pedagang akan dipindah ke Mertojoyo. Kabarnya bagi pedagang yang mau pindah ke Mertojoyo dijanjikan mereka akan mendapatkan lapak secara gratis.
 
’’Janji pemerintah dulu kan begitu, menggabungkan pasar tradisional dengan pasar modern’’ ujar Fauzi. Ia mendengar bila konsep itu dibatalkan lantaran pihak investor tidak mau menggabungkan konsep pasar tradisional dan modern. Karenanya kata Fauzi, Pemkot kemudian beralasan tidak bisa berbuat apa-apa sebab modernisasi pasar Dinoyo nantinya tidak didanai menggunakan anggaran APBD, melainkan murni dari pihak investor. “Pemkot berdalih mereka tidak mempunyai wewenang. Itu adalah tugas investor. Padahal mereka adalah pemerintah yang seharusnya bisa mengontrol itu,” Suyuti menambahkan.
Keputusan sepihak Pemkot yang membatalkan kesepakatan awal site plan pembangunan dengan para pedagang membuat mereka geram. Bahkan mereka tidak segan-segan melakukan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Saat ini keberadaan para pedagang Pasar Dinoyo (yang telah ada sejak tahun 1960 dengan beberapa kali perpindahan hingga menetap di Dinoyo) memang telah terhimpun dalam Persatuan Pedagang Pasar Dinoyo Kota Malang (P3DKM). Pengurus  P3DKM menjembatani konsolidasi dan penerus suara pedagang saat aksi massa maupun aksi lainnya. Pengurus juga mempersiapkan segala sesuatu yang berpihak kepada pedagang terkait semua rencana relokasi, pembanguna pasar, pemindahan pasar sekaligus menjembatani komunikasi semua pedagang dengan pihak luar.
 
Hal ini tentu tidak mudah, mengingat banyak pedagang dengan berbagai kepentingan yang juga beragam. Lebih-lebih pengurus juga mendapatkan godaan yang cukup menggiurkan. Menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, godaan untuk pengurus  P3DKM terus bermunculan. Mereka ditawari paket wisata jalan-jalan ke Singapura jika mampu meredam gejolak pedagang. “Kami tidak ingin itu. Kami ingin semua pedagang tidak menjadi korban” Demikian pengurus tersebut menyampaikan. 
 
“Kita tahu akan kalah, meski sudah mengeluarkan 1000 kekuatan kita. Kita tetap kalah dengan kekuasaan. Tapi kita harus bergerak. Banyak orang mendukung kami. Banyak mahasiswa memberikan suport. MCW juga mendukung dan ada juga LBH dari Unibraw. Kejadian ini kami harapkan membuka mata pemkot agar kedepan tidak lagi memperlakukan pedagang seenaknya” Ujar Alimin menambahkan.
 
Dia membenarkan memang selama pembangunan mall nantinya, ada tawaran rencana dari pihak Pemkot kalau Pasar Dinoyo dipindahkan di Kelurahan Mertojoyo. Lokasi jalan yang sempit dan sering menjadi langgana banjir adalah evaluasi kritis utama dari pihak pedagang bila tempat ini yang dipilih sebagai lahan relokasi. Lebih-lebih Alimin melanjutkan, pihak pemkot menyatakan bahwa Pasar Mertojoyo ini pada tahun-tahun berikutnya akan dijadikan pasar permanen.’’Itu yang disampaikan secara lisan oleh Wali Kota Peni Suparto. Pak Peni menjanjikan pedagang Pasar Dinoyo bisa memperoleh lapak pasar secara gratis di sana. Namun ada penjelasan lain dari Kepala Dinas Pasar Pemkot Malang J Hartono secara lisan yang menyatakan bila Pasar Mertojoyo nantinya hanya sementara saja,” Kata Alimin.
 
Bagaimana dengan desas-desus bila Pasar Dinoyo yang baru nantinya akan dibangunkan oleh investor di belakang ruko sebelah timur Pasar Dinoyo sekarang? Berdasarkan informasi yang diperoleh Alimin, kemungkinan lain rencananya memang begitu. Berbeda dengan relokasi di Mertojoyo yang pedagang dijanjikan gratis, bila jadi Pasar Dinoyo akan dibangunkan baru di lokasi ini maka pedagang harus siap-siap membeli hak pakai lapak. Menurut penjelasan Alimin, ada tiga opsi yang ditawarkan Pemkot kepada pedagang yakni, pertama bedak, kios dan loss (lantai kosongan). Bedak dijual dengan harga Rp. 4.750.000 per meter persegi, kios dengan harga Rp.8.750.000 dan loos dengan harga Rp.2.250.000 per meter persegi. Untuk kios dengan lebar 6 meter persegi  misalnya, maka uang yang harus dikeluarkan pedagang untuk mendapatkan kios baru adalah Rp. 52.500.000 Harga tersebut dapat diangsur selama 15 tahun.
Sementara itu Pakar Hukum Universitas Brawijaya Ibnu Tricahyo mengingatkan agar dalam pembangunan Pasar Dinoyo ini pemerintah lebih berpihak pada para pedagang. Ia mengatakan bahwa kesejahteraan sebuah kota itu tidak hanya dilihat dari segi fisiknya saja, melainkan harus dimulai dari pedagang kecil sebagai roda ekonomi rakyat kecil.’’Sedangkan tercapainya sebuah kesejahteraan bagi rakyat kecil bila pemerintah benar-benar berpihak pada rakyat kecil,’’ ungap Ibnu.
Dia menambahkan, peningkatan kualitas pasar seperti yang diutarakan pemerintah harusnya tidak hanya melihat dari segi fisiknya saja. Tetapi juga harus melihat lingkungan di sekitarnya juga seperti para pedagang pasar. ’’ Konsep pembangunannya harus jelas dan tidak merugikan pedagang pasar ataupun lingkungan di sekitarnya,’’ tegas Ibnu. (*/rif)
 
Ditulis oleh Faqih Al Asy’ari