SIMPUL - Sudah lebih dua tahun krisis finansial mendera dunia. Meski saat ini sudah ada tanda-tanda mereda, ancaman ternyata masih tetap ada. Krisis utang di Yunani bisa menjadi salah satu contoh. Gara-gara menerapkan defisit tinggi untuk menangkal krisis, negeri para dewa itu malah terjerat utang. Akibatnya, seluruh Eropa terkena imbasnya. Kurs euro terhadap dolar AS pun terus menuju titik terendah.Beberapa bulan sebelumnya, Dubai, pusat bisnis dan ekonomi di Timur Tengah, juga terjerat krisis yang nyaris sama. Tapi, yang surat utangnya bermasalah bukan pemerintah, melainkan raksasa properti Nakheel, anak usaha Dubai World. Kejadian di dua benua berbeda itu seakan membuka mata dunia bahwa ancaman krisis finansial global masih tetap nyata.
Banyak ekonom memprediksi krisis yang menimpa Yunani adalah awal bencana di Eropa. Dalam waktu dekat, hal serupa bisa terjadi di Portugal, Irlandia, dan negara-negara lain yang kualitas perekonomiannya tak jauh berbeda. Sebagai anggota Uni Eropa yang menggunakan mata uang tunggal euro, Yunani secara tak langsung bakal menyeret negara-negara lain ke jurang krisis keuangan.
Ironisnya, negara-negara berekonomi kuat Eropa, seperti Jerman, enggan membantu menyelamatkan Yunani. Jerman menyebut Yunani mesti menyelesaikan masalah sendiri. Meski sudah komit membantu, presiden Uni Eropa juga tak jelas bakal memberikan pertolongan dalam bentuk apa. Namun, pekan lalu 16 menteri keuangan negara pemakai euro telah bertemu untuk membicarakan rencana penyelamatan Yunani dari kemungkinan gagal bayar (default) utang.
Apa pun bentuk bantuan itu, yang jelas mesti cepat dan akurat. Sebab, dampak krisis Yunani telah merembet ke seantero dunia. Sebagai ilustrasi, indeks Dow Jones di Bursa Efek New York (NYSE) secara masif terus melemah. Bahkan, pekan lalu sempat melorot di bawah 10.000 atau terendah tahun ini. Indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sempat mencium level terendah selama 2010.
Berkaca pada kasus Yunani, Indonesia mesti ekstra hati-hati. Sebab, bukan tidak mungkin krisis serupa menghampiri negeri ini. Yunani yang punya rating utang lebih tinggi saja bisa terjerat krisis, apalagi Indonesia. Negeri ini pun dalam beberapa waktu terakhir cukup semangat menumpuk utang baru.
Berdasar data Ditjen Pengelolaan Utang, per 20 Januari 2010 total surat utang negara, termasuk obligasi rekapitalisasi yang diterbitkan untuk menolong perbankan saat krisis moneter pada 1997, sudah hampir Rp 1.000 triliun. Tepatnya Rp 998,154 triliun. Wow, sungguh besar sekali. Jika utang segunung itu tak dikelola dengan benar, tentu sangat berbahaya.
Kita semua berharap, krisis di Eropa segera teratasi. Meski begitu, tak ada salahnya pemerintah melakukan langkah antisipasi. Siapa tahu, krisis di Eropa berkepanjangan. Tapi, itu bukan lagi menjadi ancaman karena kita sudah siapkan penangkal. (*)
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















