Dua Sumber Air Legendaris dan Sebuah Makam Keramat

Laporan : Abraham

HUJAN deras mengguyur rombongan peserta Sekolah Demokrasi kala memasuki kawasan Arboretum Sungai Brantas, Bumiaji, Minggu (8/5). Sesaat kemudian, rombongan berjalan menyusuri sebuah sungai kecil sepanjang 500 meter. Sesampai di mata air, seluruh peserta lantas berebut untuk membasuh muka, tangan bahkan seorang di antaranya mandi untuk menikmati kejernihan mata air pertama Sungai Brantas tersebut.

Tidak tampak raut muka lelah di antara semua peserta meski Arboretum merupakan tujuan ketiga kunjungan mereka dalam sehari. Mereka tetap antusias mengikuti penjelasan yang disampaikan fasilitator dalam perjalanan napak tilas tersebut. Kunjungan tersebut merupakan agenda pertemuan Sekolah Demokrasi ke-5 pada hari kedua.

Ya. Pertemuan ke-5 Sekolah Demokrasi tersebut mengagendakan kunjungan lapang melalui napak tilas sumber panguripan (penghidupan, red) masyarakat Batu. Tiga tempat menjadi tujuan untuk melacak jejak sejarah masyarakat Batu. Sehari sebelumnya, mereka mengikuti dua materi yang disampaikan oleh dua Pakar Sejarah Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono dan Prof Hendrikus Supriyanto, Sabtu (7/5).

Sutomo Putro, salah seorang fasilitator, menjelaskan bahwa kawasan itu berada di Desa Sumber Brantas, sekitar 18 km ke arah utara Kota Batu. Arboretum tersebut berada tepat di sisi timur kaki Gunung Arjuno dengan ketinggian kurang lebih 1.500 m di atas permukaan laut. Arboretum Sungai Brantas menjadi penting untuk dikunjungi peserta karena merupakan mata air pertama sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo.

Aliran utama Sumber Brantas itu mengaliri Malang Raya, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto hingga Sidoarjo dan Surabaya. Di Mojokerto, percabangan sungai membelah menjadi dua sehingga mengalir menuju Kalimas di Surabaya dan Kali Porong di Sidoarjo. Total panjang Sungai Brantas mencapai 320 km yang mengelilingi Gunung Kelud. Sungai ini memiliki arti penting di Jawa Timur karena memasok air hingga menghasilkan 60 persen produksi padi di Jatim.

Diawali dengan Sumber Air Panas-Dingin
Rombongan mengawali napak tilas menuju situs Candi Songgoriti. Perjalanan menuju candi pertama di Jawa Timur milik umat Hindu itu dijangkau sekitar lima belas menit. Mereka disambut oleh Sang Juru Kunci, Hariyono.

Menurut Hariyono, Candi Songgoriti merupakan candi tertua di Jatim yang berdiri sebelum Kerajaan Singosari. Candi tersebut adalah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun sekitar abad IX. Candi tersebut dibangun atas perintah Empu Sendok atau Raja Sendok, penguasa setempat, sebagai tempat peristirahatan di daerah pegunungan. Dalam pencariannya, Empu Sendok meminta bantuan seorang muridnya Empu Supo. Empu Supo lah yang kemudian menemukan daerah yang memiliki sumber air panas sekaligus sumber air dingin yang dikenal dengan Songgoriti. “Maka, dibangunlah candi di dekat sumber air tersebut atas persetujuan Empu Sendok,” kata Hariyono.

Peserta SD sangat antusias menyimak kisah yang disampaikan Hariyono. Mereka tergerak untuk mengajukan pertanyaan tentang khasiat air panas dan legenda Air Panas Songgoriti. Menurut Hariyono, sumber air Songgoriti mempunyai keajaiban dengan mengeluarkan dua sifat berbeda, yakni air panas dan air dingin. Yang panas mempunyai suhu sekitar 45o celcius. “Panasnya (suhunya, red) sangat pas untuk dijadikan air pemandian,” ucap Hariyono. “Nah, yang dingin mempunyai rasa seperti air isotonik. Sumbernya saling berdekatan, tapi keluarnya (air, red) berbeda sifat,” imbuh Hariyono.

Sumber air panas Songgoriti tersebut, lanjut Hariyono, sampai sekarang masih dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sedangkan sumber air dingin dipercaya mampu mengawetkan paras wajah seseorang. “Panjenengan sedoyo (Anda semua, red) bisa mengikuti ritual adat dua hajat (kepentingan, red) itu di Candi Songgoriti ini setiap 1 Syuro dan Ba’da Maulud (bulan Muharram dan Ba’da Maulud dalam kalender Islam, red),” terang Hariyono menjawab pertanyaan seorang peserta.

Meski melegenda, candi yang berdiri di atas tanah seluas lapangan futsal itu tidak terawat. Beberapa bagian tampak sangat jelas telah dipugar dengan menggunakan semen. Kompleks pemandian para sekar kedaton (putri kerajaan, red), ternyata juga tergusur oleh wahana wisata Songgoriti Resort.
 
Meneladani Penyebar Islam Kota Batu
Puas berdiskusi dan melihat-lihat, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Mbah Batu di Desa Bumiaji. Kompleks pesarean keramat itu merupakan lokasi makam beberapa tokoh keramat penyebar Islam dan pioner di daerah Batu. Antara lain, Dewi Condro Asmoro (wafat 1781 M.), Kiai Abu Ghona’im alias Pangeran Roh Joyo alias Mbah Wastu alias Kiai Gubuk Angin (Wafat 1830) dan Raden Ayu Dewi Muthmainnah (Wafat 1847).

Menurut Juru Kunci makam Mbah Wastu, Ahmad Basori, nama Kota Batu berasal dari salah seorang ulama murid Pangeran Diponogoro yang bernama Abu Ghona’im alias Kiai Gubuk Angin. Abu Ghona’im mempunyai nama kondang lain, yaitu Mbah Wastu, untuk menghapus jejak pengejaran kolonial Belanda. Karena nama Mbah Wastu dianggap cukup panjang, masyarakat setempat menyingkat namanya dengan panggilan Mbah Tu atau Mbatu.

Dalam pelarian tersebut, lanjut Basori, Mbah Wastu bergabung dengan masyarakat di kaki Gunung Panderman dengan mendirikan sebuah padepokan. Mbah Wastu mengajarkan berbagai ilmu, termasuk menyebarkan Islam, kepada masyarakat. Lambat laun, makin banyak pendatang dari berbagai penjuru untuk belajar ilmu dana menetap di Batu.

Juru kunci makam sejak 1955 itu menambahkan, makam tersebut banyak dikunjungi tokoh-tokoh penting. Dia menyebut setidaknya tiga kepala daerah Kabupaten Malang (sebelum pemekaran, Batu merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Malang) rutin berziarah setiap awal tahun batu Islam. “Termasuk almarhum Walikota Batu pertama, Bapak Imam Kabul. Beliau malah yang memfasilitasi rehabilitasi kompleks makam ini,” ucap dia. Bahkan, tutur Basori, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga nyekar di makam Mbah Wastu sebelum memulai running dalam putaran Pilpres 2004. “Dia (SBY, red) mengaku mendapat wangsit untuk mengambil sebuah berlian di laut saat nyekar di sini (Batu, red),” terang Basori yang menceritakan bahwa wangsit tersebut diperoleh SBY kala terlelap sesaat ketika berdoa di sekitar kompleks.

Di bagian lain, Levy Riansyah, fasilitator SD, menerangkan bahwa kunjungan lapang tersebut mempunyai maksud agar masyarakat tidak melupakan sejarah awal kehidupan. Mereka bisa menghargai sekaligus memberi penjelasan panjang tentang kondisi saat ini, masa lalu dan masa yang akan datang. “Nantinya, peserta lebih mempertimbangkan faktor kesejarahan dalam membaca kondisi sosial dan budaya silam dan yang akan datang,” kata Rian. (zar)