SIMPUL - Membaca buku ini kita seperti berhadapan langsung dengan Jenderal Saurip Kadi, pemilik gagasan-gagasan segar yang didokumentasikan dalam buku ini. Buku Mengutamakan Rakyat merupakan hasil wawancara panjang Jenderal Saurip Kadi dengan mantan aktivis ITB, Yustiani alias Liem Siok Lan. Disajikan dengan format wawancara yang terstruktur, tapi cair mengalir. Di buku ini Jenderal Saurip mengajak kita berpetualang membedah problematika kebangsaan kita. Tidak mendebarkan memang, tapi di beberapa bagian cukup sering membuat pembacanya mengernyitkan dahi, karena seorang tentara berpikir di luar pakem ketentaraan yang konvensional.
Spektrum buku ini sangat luas, meliputi seluruh segi kehidupan kenegaraan. Sekilas mengesankan buku ini menjadi tidak fokus.
Ada persoalan sistem kenegaraan yang dinilai semrawut, ekonomi yang salah urus, nasionalisme yang terpuruk, fragmentasi sosial dan transisi budaya. Tapi jika kita kemudian menelusuri lembar demi lembar dan masuk lebih dalam maka kesan itu menjadi sirna.
Mengutamakan Rakyat berbicara dalem, terutama dalam usaha melakukan reformasi dan transformasi sistem ketatanegaraan kita. Kedalaman wacana yang ditawarkan Jenderal Saurip, sejauh yang diamati penulis selama ini belum pernah disentuh oleh balon-balon capres yang sekarang ini beredar. Bahkan oleh intelektual-intelektual di kampus pun, isu reformasi ketatanegaraan secara total belum banyak didiskusikan.Ide besar yang diusung Jenderal Saurip adalah reformasi sistem politik dan ketatenagaraan. Demokratisasi yang telah bergulir sejak reformasi 1998 ternyata salah arah. Indikasinya jelas, karena kehidupan rakyat makin jauh dari kualitas bermartabat.
Jenderal Saurip bukan tipe orang yang hanya suka mengutuk kegelapan. Baginya yang lebih penting adalah menyalakan lilin-lilin pengharapan dan optimisme. Mengutakan Rakyat tidak hanya berbicara tentang kritik-kritik terhadap sistem pemerintahan dan ketatanegaraan, tapi juga berbicara tentang langkah bagaimana bangsa ini bisa keluar dari jalan gelap ini. Kuncinya menurut Jenderal Saurip adalah sikap berani membebaskan diri dari beban-beban masa lalu yang membelenggu.
Dalam konteks ketatanegaraan, Mengutamakan Rakyat mengajak bangsa ini mengambil sikap tegas dan konsisten terhadap pilihan sistem pemerintahan, apakah kita memilih sistem presidensil ataukah mengambil pilihan sistem parlementer. Kelemahan terbesar bangsa ini adalah kurangnya sikap setia dan konsisten pada tiap pilihan. Tapi jenderal Saurip mungkin lupa, bahwa di dunia ini pilihan sistem itu tidak hitam putih. Tersedia varian-varian diantara sistem pemerintahan presidensial dan sistem parlementer. Di Perancis misalnya, meskipun ada perdana menteri tapi presiden bukanlah seorang kepala negara yang hanya sebatas simbol, sebagaimana kepala negara di negara lain (Ratu di United Kingdom atau Presiden di India).
Jenderal Saurip sangat gelisah dengan keberadaan partai-partai politik yang lebih sering memanfaatkan rakyat untuk kepentingan segelintir elitnya, ketimbang melakukan tugasnya melakukan agregasi kepentingan rakyat. Pemilu belum sebagai sarana transfer kekuasaan dari rakyat (sebagai pemilik kedaulatan) kepada pihak yang dipercaya, karena janji-janji waktu kampanye tidak diimplementasikan sebagai program pemerintah yang dibentuk oleh presiden pemenang pemilu.
Keberadaan lembaga perwakilan juga tak luput dari sorotan Jenderal Saurip. Maka tawaran Jenderal Saurip agar keberadaan fraksi di parlemen dihapus merupakan jawaban agar oligarki partai segera dihentikan. Partai memang harus disehatkan. Penyederhanaan partai secara alami harus dijalankan dengan berani mengambil pilihan sistem pemilihan umum distrik.
Politik hukum peraturan perundang-undangan politik, baik itu sistem kepartaian, sistem pemilihan dan sistem perwakilan kita tidak berada dalam satu rel yang berkesinambungan sehingga kelembagaan demokrasi belum sesuai dengan tuntutan kedaulatan rakyat. Untuk menyembuhkannya diperlukan pendekatan yang holistik, tidak bisa sepotong-potong lagi sehingga susunan kelembagaan demokrasi akan dapat saling berinteraksi secara harmonis.
Sistem perekonomian termasuk substansi yang secara mendalam disorot oleh Jenderal Saurip. Ia adalah sedikit jenderal yang memiliki perhatian terhadap persoalan-persoalan detail ekonomi, bahkan sampai dalemannya. Semuanya berangkat dari tesis yang sederhana, bahwa bangsa yang kaya dengan sumberdaya alam ini ternyata masih menjadi bangsa yang lemah dan tidak diperhitungkan. Kekayaan alam bangsa ini masih lebih banyak digunakan untuk melayani kaum pemodal baik asing maupun domistik (hal. 155). Sampai di sini mungkin masih biasa, karena sudah banyak intelektual yang mengemukakan hal itu. Tapi ketika berbicara tentang solusi bagaimana politik hukum pengelolaan sumberdaya alam ini harus dibuat, maka itu yang membedakan Jenderal Saurip dengan yang lainnya. Lugas, sistematis, dan berani.
Dalam konteks pengelolaan keuangan negara, Jenderal Saurip menyoroti bahwa dalam banyak hal kita hanya melanjutkan model yang diterapkan kolonial. Maka kemudian ia menawarkan dekolonialisasi dibidang ekonomi. Dikatakan bahwa model partisipasi perusahaan yang diberi lisensi tambang dan kekayaan alam lainnya masih menggunakan model lama yaitu hanya dengan pajak dan belakangan ditambah program “community development” (hal.199). Rakyat dalam hal ini hanya diposisikan sebagai penonton semata. Padahal hampir di semua negara penganut paham demokrasi, rakyat secara langsung sudah ikut menikmati manfaat keberadaan kekayaan alam dengan cara memasukkan kepentingan publik dalam perencanaan nasional mulai dari master plan, corporat plan dan bisnis plan.
Mengutamakan Rakyat kemudian merekomendasikan agar pengelolaan keuangan negara kedepan harus diletakkan dalam kerangka Indonesia Incorporated, yang menempatkan kekayaan alam/aset sebagai kolateral untuk memanfaatkan sistem finansial global dengan persyaratan instrumen moneter yang dibutuhkan oleh global. Dengan model ini Jenderal saurip meyakinkan pembacanya bahwa berapapun kebutuhan dana bisa dienginering melalui pasar uang sesuai kebutuhan nasional.
Jenderal Saurip adalah bintang yang terlalu cepat jatuh di langit ketentaraan bangsa ini. Setelah karibnya Letjen Agus Wirahadikusumah mangkat, seperti diakuinya ia menjadi sepi ketika meneriakkan gagasan-gagasan “gila”nya itu. Di rumah TNInya, ia seperti berteriak di padang luas yang sunyi, tak ada yang menyahut panggilannya. Sampai kemudian ia di “non job” kan dari militer pada pertengahan 2000 karena rumors kudeta ketika itu. Tapi dengan buku Mengutamakan Rakyat ini, di rumah Indonesianya kini sesungguhnya Jenderal Saurip tidak sendiri lagi, tidak sepi lagi. Mengutamakan Rakyat akan senantiasa bergerak menembus batas, berdialog di ruang-ruang ide kebangsaan dan kerakyatan Indonesia.
Sebagaimana yang Jenderal Brebes ini sering katakan, pesan kuat buku ini adalah, bahwa kita tak punya alasan untuk kehilangan harapan karena sebenarnya masih banyak anak bangsa ini yang lebih memenangkan akal sehat ketimbang imajinasi. Oleh karena itu buku ini sangat dianjurkan dibaca oleh mereka yang masih setia memelihara harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Bagi yang telah kehilangan harapan, buku ini insya allah akan menjadi energi yang menyembuhkan pengharapan itu. Wallahu’alam.
Membaca Pikiran-pikiran Jenderal Yang “Menyimpang”
(Resensi)
Judul Buku : Mengutamakan Rakyat
Penulis : Mayor Jenderal Saurip Kadi
Yustiani
Penerbit : Obor Jakarta
Tahun : 2008
Tebal : 371 + xlvii hal
Fajar Wongsodimedjo
Pecinta buku, tinggal di Malang dan peserta Sekolah Demokrasi Kota Batu 2009
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















